Jika kita termasuk warga asli Indonesia, pastilah tahu tentang sejarah Indonesia. Mulai dari letak geografisnya, pulau-pulaunya, kebudayaannya, hingga kehidupan penduduknya. Setiap warga Indonesia akan mempelajari sejarah-sejarah negrinya dari sekolah mereka ataupun kisah-kisah yang diceritakan oleh orang tua maupun nenek moyang.
Indonesia adalah sebuah Negara republik, yang dipimpin oleh seorang
presiden dan didalam kepemimpinanya menggunakan sistem demokrasi. Dimana setiap
orang memiliki hak dalam mengambil tindakan, dan mempunyai pilihan untuk
menentukan keinginannya.
Sebagai warga Indonesia, haruslah memiliki rasa kecintaan terhadap
negrinya sendiri bukan malah membanggakan negri orang lain. Dengan demikian
negri Indonesia kita tak kan tertinggal jauh dari Negara-negara lainnya.
Masa penjajahan pada negri Indonesia telah lama berlalu, namun
budaya para penjajah masih banyak yang tertinggal di negri kita Indonesia ini.
Tahukah kalian, kenapa negri kita dengan mudahnya dijajah oleh para orientalis?
Minimnya pendidikan pada para warga kita, itulah sebab utama yang menjadikan
negri kita mudah untuk dijajah.
Tidak heran jika prestasi Negara Indonesia tidak lebih baik
dibandingkan dengan Negara asia lainnya. Dengan minimnya pendidikan, warga
masyarakat Indonesia hanya dapat diperalat dan diperbudak. Tanpa adanya
pendidikan, perlawanan dengan menggunakan tenaga saja hanya akan menambah berat
beban warga.
Pendidikan adalah gerbang menuju
kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal-hal terkecil hingga hal-hal
terbesar yang normalnya akan dilewati oleh setiap manusia. Pendidikan adalah
bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam kehidupannya
sehingga tanpa pendidikan, maka logikanya semua yang diimpikannya akan menjadi
sangat sulit untuk dapat diwujudkan.
Namun, beberapa orang yang berpendidikan tidak dapat meraih sukses
dalam perjalanan hidupnya. Karena dia adalah orang yang tidak dapat menghargai
seberapa pentingnya pendidikan dan mengembangkannya, hanya ingin meraih gelar
dari program pendidikan yang pernah dilaluinya.
Faktanya, memang tidak semua orang yang berpendidikan sukses
dalam perjalanan hidupnya, tetapi jika dilakukan perbandingan maka orang yang
berpendidikan tetap jauh lebih banyak yang bisa mengecap kesuksesan dari pada
orang yang tidak pernah mengecap pendidikan, baik pendidikan formal maupun non
formal. Pendidikan adalah alat untuk mengembangkan diri, mental, pola pikir dan
juga kualitas diri seseorang.
Jika orang yang sudah dibekali ilmu
saja terbukti masih ada atau bahkan banyak yang mengalami kegagalan, lalu
bagaimana dengan mereka yang tidak dibekali ilmu sama sekali? Logikanya sudah
pasti mereka akan lebih kesulitan dalam mengembangkan hal-hal yang diminatinya
dengan tujuan untuk mendapatkan level kehidupan yang lebih baik. Proses hidup
membutuhkan teori, dan dengan pendidikan lah teori tersebut bisa didapatkan.
Setelah kemerdekaan Indonesia, kehidupan
warga-warganya pun mulai lebih baik. Dan lambat laun, pendidikan itu mulai
menyebar disetiap pulau di Indonesia. Sekolah-sekolah dibangun untuk memenuhi
kebutuhan para warganya. Dengan berbagai jenis sekolah yang dibangun, Indonesia
menjadi salah satu Negara yang mempunyai lembaga pendidikan banyak.
Untuk
memberikan pendidikan kepada anak-anak Indonesia maka pemerinah juga membuat
program wajib belajar 9 tahun, pencairan dana BOS dan pemerintah juga telah
membuka SMP yang diperuntukkan bagi anak-anak yang putus sekolah, namun belum
dapat menampung semua untuk anak-anak yang tidak memiliki ketidak mampuan dana
dari orang tua.
Tidak
terkecuali bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya tentu juga
akan mendapatkan beasiswa bagi pemerintah. Namun tentu tidak semua mahasiswa
mendapatkan beasiswa yang diinginkan. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa zaman
sekarang adalah zaman yang harus menuntut manusia untuk memiliki pendidikan
yang baik dan dihalangi dengan adanya biaya untuk pendidikan itu sendiri.
Jika pendidikan telah menyebar luas
di setiap pulau-pulau, provinsi, dan wilayah-wilayah di Indonesia, tidak salah
jika Negara kita ini patut mendapat sebutan ‘Indonesiaku Negri Berpendidikan’.
Namun, tidak akan dipercaya lagi jika orang-orang yang berpendidikan malah
menjatuhkan nama baik Indonesia. Seperti halnya para pejabat ataupun orang
berpendidikan lainnya, mereka tega memakan hak milik warga kecil dengan
berkorupsi.
Hakekat manusia ialah makhluk yang
membutuhkan. Maka dari itu dibutuhkannya pendidikan bagi setiap individu
terkait. Karena dengan adanya pendidikan, manusia akan lebih mengetahui mana
yang harusnya dia kerjakan dan tidak dia kerjakan. Sebagaimana kehidupan di
muka bumi ini, setiap Negara memerlukan pendidikan bagi semua warga
masyarakatnya.
Masalah pendidikan yang ada di
Negara kita ini sungguh sangat disayangkan sekali. Mulai dari sekolah-sekolah
yang berada pada pelosok desa tertentu, memiliki banyak kekurangan dari segi
kualitas sekolah, fasilitas gedung sekolah yang masih sangat kurang, para
pengjar yang belum sesuai standar dan hanya diperbantukan, serta para
murid-murid yang tidak melanjutkan sekolahnya hingga lulus.
Diakui
atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem
pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada
UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan
mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan, dan
khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan
agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti
telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadian sekaligus mampu
menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Secara
kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui
madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama;
sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejurusan
serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek)
dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama.
Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses
pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar
salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh
aspek.
Pendidikan
yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai
sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi,
pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan
penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan
rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan
agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya pun bagus, tetapi buta
dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor modern diisi orang-orang
awam. Sedang yang mengerti agama membuat dunianya sendiri, karena tidak mampu
terjun ke sektor modern.
Pendidikan
bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalangan masyarakat.
Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan yang
bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan
Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali tidak
bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari
kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), dimana
di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena
itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur
pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas.
Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan disodorkan kepada
wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namun dalam penggunaan dana, tidak
transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah.
Pendidikan
berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang
seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin setiap warganya
memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan
pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin berkilah
dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan
bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut. Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut. Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Akibat
paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitas kepribadian
anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlian pun sangat
jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan dengan India,
sebuah Negara dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi, pendidikan yang
rendah), ternyata kualitas SDM Indonesia sangat jauh tertinggal. India dapat
menghasilkan kualitas SDM yang mencengangkan. Jika Indonesia masih
dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidik yang
dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi di pasar
Internasional.
Di
samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah di
Indonesia masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1.
berikut menjelaskan tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP dan SMU
maupun SMK untuk tahun 2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkan sekitar
218.000 guru tambahan, dan ini menjadi tugas utama dari lembaga pendidikan
keguruan.
Inilah
salah satu tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang
kompetitif dan tangguh. Kedua, dunia pendidikan kita menghadapi banyak kendala
dan tantangan. Namun dari uraian di atas, kita optimis bahwa masih ada peluang.
Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga
dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian
dari pendidikan formal anak di sekolah.
Yang
dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning
strategy (strategi), dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak
akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi
jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta
kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkin
Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan
jaya sebagai pemenang dalam globalisasi.
Jangan meyakini opini sekelompok orang yang tidak
bertanggung jawab. Apa pun alasannya, setiap orang tetap membutuhkan
pendidikan. Meskipun pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang, namun
pendidikan akan membekali anda kualitas diri yang lebih baik sehingga anda akan
lebih berpeluang untuk mendapatkan apa yang anda cita-citakan. Pendidikan
merupakan alat terpenting untuk merealisasikan semua impian anda. Pendidikan
adalah prioritas untuk menjuju kearah yang lebih baik, dan masa depan yang
lebih layak buat Anda.
Tujuan pendidikan nasional pada
umumnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar