Marhaban Bi Khudurikum... Please Enjoy Your Visit In Lailitsnay.blogspot.com :)

Rabu, 26 November 2014

ARTIKEL

Indonesiaku Negri Berpendidikan


Jika kita termasuk warga asli Indonesia, pastilah tahu tentang sejarah Indonesia. Mulai dari letak geografisnya, pulau-pulaunya, kebudayaannya, hingga kehidupan penduduknya. Setiap warga Indonesia akan mempelajari sejarah-sejarah negrinya dari sekolah mereka ataupun kisah-kisah yang diceritakan oleh orang tua maupun nenek moyang.
Indonesia adalah sebuah Negara republik, yang dipimpin oleh seorang presiden dan didalam kepemimpinanya menggunakan sistem demokrasi. Dimana setiap orang memiliki hak dalam mengambil tindakan, dan mempunyai pilihan untuk menentukan keinginannya.
Sebagai warga Indonesia, haruslah memiliki rasa kecintaan terhadap negrinya sendiri bukan malah membanggakan negri orang lain. Dengan demikian negri Indonesia kita tak kan tertinggal jauh dari Negara-negara lainnya.

Masa penjajahan pada negri Indonesia telah lama berlalu, namun budaya para penjajah masih banyak yang tertinggal di negri kita Indonesia ini. Tahukah kalian, kenapa negri kita dengan mudahnya dijajah oleh para orientalis? Minimnya pendidikan pada para warga kita, itulah sebab utama yang menjadikan negri kita mudah untuk dijajah.
Tidak heran jika prestasi Negara Indonesia tidak lebih baik dibandingkan dengan Negara asia lainnya. Dengan minimnya pendidikan, warga masyarakat Indonesia hanya dapat diperalat dan diperbudak. Tanpa adanya pendidikan, perlawanan dengan menggunakan tenaga saja hanya akan menambah berat beban warga.
Pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal-hal terkecil hingga hal-hal terbesar yang normalnya akan dilewati oleh setiap manusia. Pendidikan adalah bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam kehidupannya sehingga tanpa pendidikan, maka logikanya semua yang diimpikannya akan menjadi sangat sulit untuk dapat diwujudkan.
Namun, beberapa orang yang berpendidikan tidak dapat meraih sukses dalam perjalanan hidupnya. Karena dia adalah orang yang tidak dapat menghargai seberapa pentingnya pendidikan dan mengembangkannya, hanya ingin meraih gelar dari program pendidikan yang pernah dilaluinya.
Faktanya, memang tidak semua orang yang berpendidikan sukses dalam perjalanan hidupnya, tetapi jika dilakukan perbandingan maka orang yang berpendidikan tetap jauh lebih banyak yang bisa mengecap kesuksesan dari pada orang yang tidak pernah mengecap pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan adalah alat untuk mengembangkan diri, mental, pola pikir dan juga kualitas diri seseorang.
Jika orang yang sudah dibekali ilmu saja terbukti masih ada atau bahkan banyak yang mengalami kegagalan, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dibekali ilmu sama sekali? Logikanya sudah pasti mereka akan lebih kesulitan dalam mengembangkan hal-hal yang diminatinya dengan tujuan untuk mendapatkan level kehidupan yang lebih baik. Proses hidup membutuhkan teori, dan dengan pendidikan lah teori tersebut bisa didapatkan.
Setelah kemerdekaan Indonesia, kehidupan warga-warganya pun mulai lebih baik. Dan lambat laun, pendidikan itu mulai menyebar disetiap pulau di Indonesia. Sekolah-sekolah dibangun untuk memenuhi kebutuhan para warganya. Dengan berbagai jenis sekolah yang dibangun, Indonesia menjadi salah satu Negara yang mempunyai lembaga pendidikan banyak.
Untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak Indonesia maka pemerinah juga membuat program wajib belajar 9 tahun, pencairan dana BOS dan pemerintah juga telah membuka SMP yang diperuntukkan bagi anak-anak yang putus sekolah, namun belum dapat menampung semua untuk anak-anak yang tidak memiliki ketidak mampuan dana dari orang tua.
Tidak terkecuali  bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya tentu juga akan mendapatkan beasiswa bagi pemerintah. Namun tentu tidak semua mahasiswa mendapatkan beasiswa yang diinginkan. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa zaman sekarang adalah zaman yang harus menuntut manusia untuk memiliki pendidikan yang baik dan dihalangi dengan adanya biaya untuk pendidikan itu sendiri.
Jika pendidikan telah menyebar luas di setiap pulau-pulau, provinsi, dan wilayah-wilayah di Indonesia, tidak salah jika Negara kita ini patut mendapat sebutan ‘Indonesiaku Negri Berpendidikan’. Namun, tidak akan dipercaya lagi jika orang-orang yang berpendidikan malah menjatuhkan nama baik Indonesia. Seperti halnya para pejabat ataupun orang berpendidikan lainnya, mereka tega memakan hak milik warga kecil dengan berkorupsi.
Hakekat manusia ialah makhluk yang membutuhkan. Maka dari itu dibutuhkannya pendidikan bagi setiap individu terkait. Karena dengan adanya pendidikan, manusia akan lebih mengetahui mana yang harusnya dia kerjakan dan tidak dia kerjakan. Sebagaimana kehidupan di muka bumi ini, setiap Negara memerlukan pendidikan bagi semua warga masyarakatnya.
Masalah pendidikan yang ada di Negara kita ini sungguh sangat disayangkan sekali. Mulai dari sekolah-sekolah yang berada pada pelosok desa tertentu, memiliki banyak kekurangan dari segi kualitas sekolah, fasilitas gedung sekolah yang masih sangat kurang, para pengjar yang belum sesuai standar dan hanya diperbantukan, serta para murid-murid yang tidak melanjutkan sekolahnya hingga lulus.
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan, dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadian sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh aspek.
Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya pun bagus, tetapi buta dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor modern diisi orang-orang awam. Sedang yang mengerti agama membuat dunianya sendiri, karena tidak mampu terjun ke sektor modern.
Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalangan masyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan yang bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), dimana di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan disodorkan kepada wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namun dalam penggunaan dana, tidak transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut. Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Akibat paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitas kepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlian pun sangat jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan dengan India, sebuah Negara dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi, pendidikan yang rendah), ternyata kualitas SDM Indonesia sangat jauh tertinggal. India dapat menghasilkan kualitas SDM yang mencengangkan. Jika Indonesia masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidik yang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi di pasar Internasional.
Di samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah di Indonesia masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1. berikut menjelaskan tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP dan SMU maupun SMK untuk tahun 2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkan sekitar 218.000 guru tambahan, dan ini menjadi tugas utama dari lembaga pendidikan keguruan.
Inilah salah satu tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif dan tangguh. Kedua, dunia pendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan. Namun dari uraian di atas, kita optimis bahwa masih ada peluang. Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian dari pendidikan formal anak di sekolah.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy (strategi), dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan jaya sebagai pemenang dalam globalisasi.
Jangan meyakini opini sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Apa pun alasannya, setiap orang tetap membutuhkan pendidikan. Meskipun pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang, namun pendidikan akan membekali anda kualitas diri yang lebih baik sehingga anda akan lebih berpeluang untuk mendapatkan apa yang anda cita-citakan. Pendidikan merupakan alat terpenting untuk merealisasikan semua impian anda. Pendidikan adalah prioritas untuk menjuju kearah yang lebih baik, dan masa depan yang lebih layak buat Anda.
Tujuan pendidikan nasional pada umumnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar