Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya..
Indonesia sejak dulu kala selalu di
puja-puja bangsa..
Sebuah potongan lirik lagu yang menggambarkan negri Indonesia kita
tercinta ini, sesungguhnya sangatlah menyentuh. Namun sekarang ini, lagu-lagu
kebangsaan itu mulai memudar dan sangat jarang diketahui oleh anak-anak muda
Indonesia. Mereka lebih memilih
lagu-lagu pop dan rock yang sedang tren,
sedangkan isi dari lagu-lagu tersebut hanya menggambarkan seorang pujangga yang
mengejar cinta. Bukannya cinta kepada tanah air, melainkan cinta kepada sang
kekasih hati.
Sungguh, ada apa dengan negri Indonesia kita ini? Kemana para
generasi muda? Kapan mereka akan berkarya? Dimana mereka letakkan jasa para
pejuang terdahulu? Dan Siapa yang akan selalu menjaga kemerdekaan negri
Indonesia kita ini jika bukan generasi-generasi muda?
Dari sini dapat dilihat sekilas tentang keadaan negri Indonesia
kita ini, bahwasanya pemikiran-pemikiran para generasi muda telah banyak
terpengaruh oleh budaya-budaya barat. Sehingga mereka melupakan budaya negri
sendiri, padahal banyak budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dibudi
dayakan kembali serta dikembangkan sesuai perkembangan era modern saat ini.
Dalam konteks pendidikan pun masih terlalu minim dengan
tenaga-tenaga guru yang profesional, karena masih banyak dari mereka yang belum
sesuai dengan standar profesi seorang guru. Hal ini dapat berpengaruh terhadap
kualitas seorang peserta didik, sebab seorang guru adalah sebuah perantara yang
akan menghantarkan peserta didik ke medan ilmu pengetahuan untuk mempertahankan
negri Indonesia tercinta kita.
Jika bukan orang-orang terdidik, siapa lagi yang akan maju untuk
melindungi negri kita ini. Agar penjajahan tak kan pernah muncul lagi dimuka
Indonesia. karena secara tidak langsung, negri ini sedang dalam penjajahan.
Produk-produk yang beredar di Indonesia adalah buatan Negara lain, padahal
bahan-bahan yang digunakan untuk membuat produk tersebut adalah hasil export
dari Indonesia. Namun, sangat disayangkan sekali bahwa masyarakat Indonesia
hanya dapat menjadi konsumen produk luar negri. Padahal sebenarnya itu adalah
hasil dari negri sendiri.
Indonesia adalah negri yang kaya akan hasil alam. Namun,
bangsa-bangsanya miskin terhadap ilmu pengetahuan. Para pahlawan dan sejarahwan
terdahulu, kini hanya tinggal cerita. Dan tak banyak dari kita tertarik dengan
cerita-cerita lama. Karena dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat pesat,
para pejuang-pejuang muda hanya bisa tertawa di depan layar-layar mereka.
Dimana sebenarnya letak jiwa muda yang bisa berkarya, untuk
memakmurkan negri Indonesia kita?
Ironis juga terhadap para tenaga-tenaga kerja Indonesia sebut saja
TKI, mereka dikirim ke negri orang hanya sekedar menjadi seorang budak. Apakah
tidak ada lagi pekerjaan di Indonesia? Dan sekarang kebanyakan dari TKI
berjenis kelamin perempuan, sehingga berubah nama menjadi TKW (Tenaga Kerja
Wanita). Lebih malang nasib dari seorang wanita yang seharusnya berkewajiban
mengurusi anak di rumah serta melayani suami mereka dibolehkan untuk bekerja ke
luar negri.
Hal ini mengingatkan saya kepada seorang wanita setengah baya yang
saya temui di dalam pesawat yang menuju ke Jakarta. Entah siapa namanya, saya
sampai tak sempat menanyakannya. Dalam awal pertemuan saya dengan beliau, raut
muka kesedihan terlihat jelas diwajahnya. Saya pun hanya dapat melihat iba
kepadanya dan hanya menanyakan hal-hal yang sekedarnya saja.
Setelah beberapa lama kami duduk berdampingan, tidak afdhol jika
hanya saling diam. Karena perjalanan kami memerlukan waktu sekitar kurang lebih
6 jam. Saya pun mulai sedikit basa-basi, dan akhirnya ibu itu pun terpancing
untuk menceritakan kisah-kisah yang beliau alami selama menjadi TKW.
Dua tahun, adalah masa dimana ibu itu mengalami tekanan.
Meninggalkan bayi yang baru dilahirkannya, bercerai dengan suami yang gila akan
harta, wanita dan narkoika. Dengan tekat yang kuat, ibu itu meninggalkan
Indonesia dengan berkorban menjadi seorang tenaga kerja wanita (TKW).
“Lebih baik saya menderita menjadi seorang TKW mbak, dari pada
terus tersiksa dengan kelakuan suami saya. Itu lebih menyakitkan dibanding saya
harus masuk penjara” ujar ibu setengah baya itu dengan linangan air mata. Mungkin
dengan rintikan air mata yang mengalir dapat melegakan hati si ibu. Karena
sebelumnya beliau sudah menceritakan pengalaman-pengalaman pahit menjadi
seorang TKW.
Lebih tepatnya enam tahun si ibu telah bekerja menjadi seorang TKW,
empat tahun di Arab Saudi dan dua tahun di Qatar. Sebuah penyiksaan selalu ia
temui di setiap majikan yang ia ikuti. Namun untuk menyambung kehidupannya ia mempertahankan
diri dengan siksaan-siksaan tersebut. Pernah beliau difitnah dan dimasukkan ke
dalam jeruji penjara selama kurang lebih 1,5 tahun, ketika berada di Arab
Saudi. Dan kepulangan beliau kali ini atas permintaannya sendiri, namun
beberapa barang saja yang boleh dibawa pulang oleh sang ibu. Majikannya tidak
memperbolehkannya membawa semua barang yang dimilikinya.
Dari kisah diatas, terlihat jelas bahwa nasib seorang tenaga kerja
yang dikirim ke Negara lain hanyalah mendapat kesengsaraan saja, bukan malah kesejahteraan.
Meskipun tidak semua TKW mengalami hal sama seperti ibu tersebut, namun
martabat seorang bangsa Indonesia sudah tidak lagi dipandang mulia oleh
bangsa-bangsa lainnya.
Oleh karena itu, negri Indonesia kita ini butuh para pejuang bangsa
untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih oleh presiden pertama kita
Soekarno. Menggerakkan generasi muda untuk terus berkarya kepada Indonesia agar
menuju negri makmur yang dicintai seluruh bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar