Marhaban Bi Khudurikum... Please Enjoy Your Visit In Lailitsnay.blogspot.com :)

Minggu, 07 Desember 2014

ESSAY


Menuju Negri Makmur yang Di Cintai



Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan  jaya..                                                                  
Indonesia sejak dulu kala selalu di puja-puja bangsa..
Sebuah potongan lirik lagu yang menggambarkan negri Indonesia kita tercinta ini, sesungguhnya sangatlah menyentuh. Namun sekarang ini, lagu-lagu kebangsaan itu mulai memudar dan sangat jarang diketahui oleh anak-anak muda Indonesia. Mereka  lebih memilih lagu-lagu pop dan  rock yang sedang tren, sedangkan isi dari lagu-lagu tersebut hanya menggambarkan seorang pujangga yang mengejar cinta. Bukannya cinta kepada tanah air, melainkan cinta kepada sang kekasih hati.

Sungguh, ada apa dengan negri Indonesia kita ini? Kemana para generasi muda? Kapan mereka akan berkarya? Dimana mereka letakkan jasa para pejuang terdahulu? Dan Siapa yang akan selalu menjaga kemerdekaan negri Indonesia kita ini jika bukan generasi-generasi muda?
Dari sini dapat dilihat sekilas tentang keadaan negri Indonesia kita ini, bahwasanya pemikiran-pemikiran para generasi muda telah banyak terpengaruh oleh budaya-budaya barat. Sehingga mereka melupakan budaya negri sendiri, padahal banyak budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dibudi dayakan kembali serta dikembangkan sesuai perkembangan era modern saat ini.
Dalam konteks pendidikan pun masih terlalu minim dengan tenaga-tenaga guru yang profesional, karena masih banyak dari mereka yang belum sesuai dengan standar profesi seorang guru. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas seorang peserta didik, sebab seorang guru adalah sebuah perantara yang akan menghantarkan peserta didik ke medan ilmu pengetahuan untuk mempertahankan negri Indonesia tercinta kita.
Jika bukan orang-orang terdidik, siapa lagi yang akan maju untuk melindungi negri kita ini. Agar penjajahan tak kan pernah muncul lagi dimuka Indonesia. karena secara tidak langsung, negri ini sedang dalam penjajahan. Produk-produk yang beredar di Indonesia adalah buatan Negara lain, padahal bahan-bahan yang digunakan untuk membuat produk tersebut adalah hasil export dari Indonesia. Namun, sangat disayangkan sekali bahwa masyarakat Indonesia hanya dapat menjadi konsumen produk luar negri. Padahal sebenarnya itu adalah hasil dari negri sendiri.
Indonesia adalah negri yang kaya akan hasil alam. Namun, bangsa-bangsanya miskin terhadap ilmu pengetahuan. Para pahlawan dan sejarahwan terdahulu, kini hanya tinggal cerita. Dan tak banyak dari kita tertarik dengan cerita-cerita lama. Karena dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat pesat, para pejuang-pejuang muda hanya bisa tertawa di depan layar-layar mereka.
Dimana sebenarnya letak jiwa muda yang bisa berkarya, untuk memakmurkan negri Indonesia kita?
Ironis juga terhadap para tenaga-tenaga kerja Indonesia sebut saja TKI, mereka dikirim ke negri orang hanya sekedar menjadi seorang budak. Apakah tidak ada lagi pekerjaan di Indonesia? Dan sekarang kebanyakan dari TKI berjenis kelamin perempuan, sehingga berubah nama menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita). Lebih malang nasib dari seorang wanita yang seharusnya berkewajiban mengurusi anak di rumah serta melayani suami mereka dibolehkan untuk bekerja ke luar negri.
Hal ini mengingatkan saya kepada seorang wanita setengah baya yang saya temui di dalam pesawat yang menuju ke Jakarta. Entah siapa namanya, saya sampai tak sempat menanyakannya. Dalam awal pertemuan saya dengan beliau, raut muka kesedihan terlihat jelas diwajahnya. Saya pun hanya dapat melihat iba kepadanya dan hanya menanyakan hal-hal yang sekedarnya saja.
Setelah beberapa lama kami duduk berdampingan, tidak afdhol jika hanya saling diam. Karena perjalanan kami memerlukan waktu sekitar kurang lebih 6 jam. Saya pun mulai sedikit basa-basi, dan akhirnya ibu itu pun terpancing untuk menceritakan kisah-kisah yang beliau alami selama menjadi TKW.
Dua tahun, adalah masa dimana ibu itu mengalami tekanan. Meninggalkan bayi yang baru dilahirkannya, bercerai dengan suami yang gila akan harta, wanita dan narkoika. Dengan tekat yang kuat, ibu itu meninggalkan Indonesia dengan berkorban menjadi seorang tenaga kerja wanita (TKW).
“Lebih baik saya menderita menjadi seorang TKW mbak, dari pada terus tersiksa dengan kelakuan suami saya. Itu lebih menyakitkan dibanding saya harus masuk penjara” ujar ibu setengah baya itu dengan linangan air mata. Mungkin dengan rintikan air mata yang mengalir dapat melegakan hati si ibu. Karena sebelumnya beliau sudah menceritakan pengalaman-pengalaman pahit menjadi seorang TKW.
Lebih tepatnya enam tahun si ibu telah bekerja menjadi seorang TKW, empat tahun di Arab Saudi dan dua tahun di Qatar. Sebuah penyiksaan selalu ia temui di setiap majikan yang ia ikuti. Namun untuk menyambung kehidupannya ia mempertahankan diri dengan siksaan-siksaan tersebut. Pernah beliau difitnah dan dimasukkan ke dalam jeruji penjara selama kurang lebih 1,5 tahun, ketika berada di Arab Saudi. Dan kepulangan beliau kali ini atas permintaannya sendiri, namun beberapa barang saja yang boleh dibawa pulang oleh sang ibu. Majikannya tidak memperbolehkannya membawa semua barang yang dimilikinya.
Dari kisah diatas, terlihat jelas bahwa nasib seorang tenaga kerja yang dikirim ke Negara lain hanyalah mendapat kesengsaraan saja, bukan malah kesejahteraan. Meskipun tidak semua TKW mengalami hal sama seperti ibu tersebut, namun martabat seorang bangsa Indonesia sudah tidak lagi dipandang mulia oleh bangsa-bangsa lainnya.
Oleh karena itu, negri Indonesia kita ini butuh para pejuang bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih oleh presiden pertama kita Soekarno. Menggerakkan generasi muda untuk terus berkarya kepada Indonesia agar menuju negri makmur yang dicintai seluruh bangsa.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar