Seribu
Langkah Menuju Negri Seribu Benteng
Terdengar jelas di telingaku sebuah suara dari seorang pramugari yang menyadarkanku dari tatapan kosong dalam layar film di depanku : “Excuesme, please use your seatbat!”. Sejenak kesadaranku kembali mengingat saat-saat sebelum keberangkatanku menuju negri seribu benteng.
Dulu ketika aku duduk di kelas 3 Tsanawiyah, sempat terbesit dibenakku untuk melanjutkan studyku ke negri pyramid setelah selesai membaca sebuah buku karya Habiburahman. Namun, keinginanku pun sirna begitu saja ketika kesempatan telah di depan mata. Entahlah, hal apa yang tiba-tiba mengurungkan niatku itu. Mungkinkah rasa takut dan ketidak mampuan diri. Dan sekarang, aku sedang duduk di dalam sebuah pesawat menuju negri Maroko, negeri seribu benteng. Dimana tak pernah aku fikirkan sebelumnya, dan tak pernah ku bayangkan seperti apa negri itu. Karena, memang tak ada ketertarikan sebelumnya dengan negri maroko, yang sering disebut juga dengan negri 3 rasa, kombinasi dari afrika, timur tengah dan eropa.
Kisah ini berawal ketika seorang teman menawarkanku sebuah beasiswa
untuk belajar ke luar negri. Sekilas aku pun hanya menanggapinya dengan
tanggapan mustahilku, karena syarat-syarat yang ditawarkan tak ada satupun yang
mudah menurutku. Aku pun hanya bisa tersenyum simpul saat meyakinkannya. Namun,
berhari-hari aku hanya di hantui tawaran yang sebelumnya tak memikatku sama
sekali. Awalnya aku hanya iseng-iseng saja saat membuat essay bahasa arab,
yakni salah satu syarat untuk beasiswa tersebut. Sedikit ragu karena sebelumnya
aku belum pernah membuat sebuah essay yang di haruskan mencapai 600-1000 kata,
apalagi dalam bahasa asing.
Setelah menyelesaikan syarat yang pertama, beberapa syarat lainnya
lebih menghantuiku. Karena yang awalnya hanya ingin simpati terhadap teman,
akhirnya pun ikut terjun kedalamnya. Dari mulai surat rekomendasi 3 dosen yang
salah satunya harus professor, lalu membuat passport ke kantor immigran. “Kapan
ke kantor imigran?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut temanku. Sejujurnya
aku msih agak ragu dengan keputusanku saat itu, namun aku pun tak ingin membuat
temanku kecewa padaku. Akhirnya ku putuskan untuk pergi ke kantor imigran
setelah mendapat restu dari orang tuaku.
Ternyata membuat passport itu tak semudah yang kami bayangkan,
karena banyak juga syarat-syarat yang harus terpenuhi. (kayak mau nikah aja,
hehe). Yang awalnya harus ada surat rekomendasi dari kampus dalam pembuatan
passport, setelah itu semua foto copy berkas harus terlegalisir jika tidak
membawa berkas yang asli. Dan akhirnya setelah mondar-mandir 4 kali ke kantor
imigran, passport pertama kita bisa jadi. Senang sekali rasanya ketika
menyelesaikan satu per satu syarat tersebut. Terakhir yakni kurang surat
rekomendasi dari 3 dosen, setelah itu mengirimkan berkas-berkasnya via email.
Namun, untuk memeinta surat rekomendasi dari dosen pun tak bisa langsung
instan. Harus ada janjian untuk bertemu, perizinan dari dekan, dan
syarat-syarat lainnya.
Terhitung sebualan sudah berlalu, setelah mengirimkan berkas-berkas
pada deadline yang telah ditentukan. Dan selama itu pun belum ada kabar ataupun
jawaban sama sekali dari pihak sana. Sejujurnya, aku tak begitu mempersoalkan
akan diterima-tidaknya, namun didalam lubuk hati yang paling dalam tersimpan
sebuah harapan untuk bisa pergi belajar ke negri jiran. Usaha dan do’a kami
akhirnya terjawab tepat sehari setelah penantian sebualan kami. Kabar itu kami
dengar dari teman yang diberitahu oleh dosen kami, tanpa disangka bahwa kami
bisa lolos dan mendapat kesempatan untuk belajar ke negri orang. Meskipun hanya
akan berlangsung satu bulan saja, rasa senang dan bahagia itu terlihat jelas di
wajah kami berdua. Syukur atas nikmat rabb kami, ‘Alhamdulllah ‘alla kulli khal
wa fie kulli khal’.
Untuk lebih menyakinkan hati kami, akhirnya kami membuka email kami
masing-masing. Setelah membuka dan membaca, ternyata aku hanya mendapatkan
partial scholarship yakni dengan tanggungan sekolah saja, sedangkan temanku
mendapatkan full scholarship yang akan ditanggung akomodasi dan tempat tinggal
selama disana. Pikiranku berkecambuk atas harapan yang mulai pupus. Namun,
temanku mulai menengakanku dengan berkata “kalau kita nanti jadi berangkat,
kamu tinggal aja di asrama bareng aku. Kita minta izin biar kamu diperbolehkan
tinggal”. Dalam batinku berkata “Aku ora po po gag ikut diasrama, asal bisa
hidup disana aja udah Alhamdulillah”. (tapi,. Masak mau jadi glandangan??)
Seminggu setelah itu aku pun pulang untuk bernegoisasi kepada orang
tuaku. Raut kecemasan terlihat jelas diwajah mereka, meski kata-kata positif
terlontar dari mulut mereka. Aku terdiam dan termenung. Ayah masih sama, dari
dulu dia tak pernah menolak permintaan-permintaan dariku. Inilah sifat manja
yang tak bisa ku lepaskan, namun saat itu aku benar-benar tak tega dengan kedua
orang tuaku.
Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, meskipun
aku telah meminta restu kepada mereka namun hatiku masih mengganjal, karena
pasti mereka memikirkan biaya dan nasibku di negri dimana orang tuaku pun tidak
tau letak geografisnya. Kakak pertamaku tidak menyetujui keputusanku, tetapi
orang tuaku membelaku agar terus optimis. Setelah mendapat restu dari ayah dan
ibu, hatiku sedikit bisa tersenyum lega. Dan aku bisa mengendalikan
kekhawatiranku yang sebelumnya berkecambuk didalam dada. Masih ada kurang lebih
satu bulan sebelum pemberangkatanku, iu berarti masih ada waktu untuk
mengajukan proposal-proposal demi meringankan beban orang tua.
Selama sebulan, dimana hari-hari sebelum pemberangkatan kami, aku
dan temanku mengelilingi kota jogja demi pengajuan proposal kami. Aku sangat
terharu karena temanku rela menemaniku meski hujan dan panas menerjang. Namun,
tak sedikit yang menolak proposal yang kami ajukan. Inilah cobaan yang Allah
berikan kepada kami agar kami tetap menjadi muslimah yang kuat. “Aku ora po po”
itulah optimismeku untuk terus maju dan bertahan. Tidak lebih dari seminggu
dimana hari pemberangkatan kami tiba. Proposal yang ku ajukan dan diterima oleh
beberapa dermawan belum satu pun yang memberi kabar. Dan hari-demi hari akan
berlalu lebih cepat. H-2 dari pemberangkatan ke maroko aku sudah harus di
Jakarta, untuk berangkat bersama teman dan dosenku. Temanku sudah pulang ke
rumahnya seminggu sebelum pemberangkatan, karena rumahnya memang di Jakarta.
Dan aku harus melakukan perjalanan dari klaten ke Jakarta.
Ketika hari pemberangkatan tiba, aku telah bersiap mengemasi
barang-barangku di dalam tas dan koper. Sehari sebelum pemberangkatan ke
Jakarta, ayahku menemaniku pergi ke stasiun untuk membeli tiket kereta. Namun
sesamapainya di stasiun, harapanku pun sedikit buyar karena semua tiket kereta
telah habis. Akhirnya ayahku pun mengajakku ke terminal untuk membeli tiket
bus. Aku pun hanya menuruti apa kata ayahku. Di dalam pikiranku hanya terfikir
“yang terpenting sekarang aku bisa
sampai di Jakarta dengan apapun kendaraannya itu tak masalah”. Dan setelah
sedikit berbincang dengan agen bus Jakarta, aku pun mendapat tiket
pemberangkatan pada hari jum’at pukul 2 siang.
Hari itu pun tiba, meski kekhawatiran semua keluarga sangat
terlihat dengan jelas, aku bertekat untuk pergi ke Jakarta sendirian. Aku tau
bahwa ini adalah pertama kalinya aku pergi ke Jakarta, namun tak ada rasa takut
sedikit pun saat itu. Ayah dan ibu hanya mengantarkanku kea gen bus, tampak
jelas di muka mereka kekhawatiran yang sulit tuk di lukiskan. Aku mencoba
selalu tersenyum di hadapan mereka untuk menyakinkan bahwa aku akan baik-baik
saja. Ketika lambaian tangan mereka aku sambut dengan gemetaran, tiba-tiba air
mataku jatuh dengan perlahan. Pertanda bahwa itu adalah air mata keridhoan
mereka untuk melepas kepergianku.
Dalam perjalanan itu, satu demi satu penumpang naik ke dalam bus
dari tempat mereka masing-masing. Setelah bus mulai penuh, perjalanan itu
sangatlah nyaman. Aku pun menikmati perjalannan itu, sebelum dering ponselku
mengejutkanku. Setelah aku menutup percakapan dengan temanku yang menyuruhku
untuk turun dari bus dan kembali ke jogja, tepatnya aku harus ke bandara adi
sucipto karena jadwal pesawat di majukan tiba-tiba, dan aku telah di pesankan
tiket pesawat menuju Jakarta. Betapa tak terkejutnya aku dengan kabar itu, aku
mulai bingung karena saat itu juga aku harus turun di pinggir jalan,
kepanikanku pun bertambah ketika teringat dengan pasportku dan saat ku gledah
didalam tas aku tidak menemukannya, ternyata tertinggal di kamar kostku di
jogja. Kepanikanpun melandaku sejadi-jadinya. Aku hanya dapat berdo’a kepada
sang kholiq.
Setelah aku mendapatkan bus untuk kembali, kepanikanku sedikit
berkurang. Namun, bus itu hanya dapat mengantarku sepertiga dari perjalananku
menuju jogja. Akhirnya terfikir olehku untuk naik taxi, namun berkali-kali aku
menghubungi beberapa nomer taxi tak satu pun muncul di hadapanku. Dan ketika
itu, munculah bus tujuan jogja. Tanpa pikir panjang, ketika aku di tawari untuk
naik bus itu aku pun langsung ikut berduyun-duyun naik ke bus. Baru 5 menit
perjalanan, tiba-tiba aku teringat tas yang sedang ku gendong di belakangku.
Saat aku lihat bahwa tasku telah terbuka dengan lebar, aku langsung mencari
dompetku. Namun, entah malangnya nasibku waktu itu bahawasanya dompetku telah
di copet. Rasanya seperti terkena air panas yang baru saja mendidih, aku pun
berteriak dan menangis sesenggukan. “Cobaan apalagi yang sedang menimpaku saat
ini ya Alloh”. Tak henti-hentinya aku berdo’a dan berdo’a kepada Alloh agar
dilancarkan segalanya.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, karna saat itu juga aku harus
sampai ke jogja tepat pukul 20.00 WIB. Dalam tangisku aku teringat dengan kedua orang
tuakua yang rela meminjam uang demi kelancaran pemberangkatanku. Dalam fikirku
jangan sampai orang tuaku tahu, karena uang yang diberikan kepadaku adalah uang
pinjaman dan jumlahnya tidak sedikit. Namun, bagaimana nasibku jika aku hanya
membawa tubuh dan pakaian saja, apakah aku akan bisa hidup di negri yang sangat
asing bagiku. Setelah aku ditenangkan oleh beberapa orang disana, polisi menemaniku
untuk mencari pencopet yang masih ku ingat wajahnya. Namun, setelah berkali-kali
mengelilingi komplek perumahan di sekitar situ, tak ada hasil apapun. Akhirnya
pak polisi memberiku surat kehilangan karena pencopet tersebut tak diketemukan.
Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 17.30 WIB, dan aku harus
segera sampai di bandara adisucipto. Seketika temanku menelponku dan aku
ceritakan kejadian yang barusan menimpaku, dia pun terdengar kesal dan ingin
marah terhadapku, namun dia langsung memberi tahuku agar secepatnya mencari
taxi menuju bandara adisucipto karena disana dosenku telah menunggu dan siap
untuk penerbangan ke Jakarta.
“Taxiiii!!!!” triakan pak polisi saat memanggilkan taxi untukku.
Dengan sesegera mungkin aku masuk bersama barang-barangku ke dalam taxi, waktu
itu sudah menunjukkan pukul 18.10 WIB. Didalam taxi hatiku masih
terombang-ambing, memikirkan bahwa akan sampaikah aku dengan tepat waktu. Dan
passportku yang tertinggal dikost, itu membuatku lebih panik. Akhirnya aku
meminta bantuan teman satu kostku untuk mengantarkannya ke bandara sebelum
pukul 20.00 WIB. Didalam taxi tak henti-hentinya aku berdo’a, memohonkan segala
kemudahan kepada sang maha pencipta agar aku ditujukan yang terbaik, haruskah
tetap maju atau mundur. Dengan kecepatan yang lebih dari 60 cc, supir taxi itu
pun mengerahkan tenaganya agar sampai sebelum jam 20.00 WIB. Entah, rasa yang
tak bisa digambarkan saat itu, ketika naik taxi dengan kecepatan tinggi dan
menerobos diantara sela-sela mobil, serta perasaan hati yang sedang kacau
balau, gundah gulana dan sebagainya.
Sungguh, rencana Alloh begitu indah. Tepat pukul 19.50 aku sampai
dibandara adisucipto, begitu pula teman satu kostku, dia datang 5 menit setelah
aku turun dari taxi. Tersisa 10 menit untuk melakukan cek in dan berkemas
menuju pesawat, yang akan membawaku ke Jakarta. Itulah pertama kalinya aku
merasakan terbang diantara awan-awan malam.Sesampainya di bandara soekarno,
temanku telah menungguku dan dosenku untuk pemberangkatan ke negri maroko.
Dengan bimbingan dari dosen kami yang lebih berpengalaman, karena bukan pertama
kalinya beliau pergi ke luar negri, maka kami hanya bisa mengikuti bimbingan
beliau. Dan aku pun masih belum percaya dengan keberadaanku pada saat itu.
Dalam benakku terngiang do’a orang tua pada setiap langkah-langkah yang
mengkantarkanku hingga ujung perjalanan.
Mengingat hari-hari sebelum keberangkatan itu membuatku menitikkan
air mata, yang mungkin itu adalah air mata bahagia dengan campuran kesedihan.
Didalam batinku selalu terucap kata “Aku ora po po”. Ketika pesawat sudah mulai
stabil dan terkendali, mataku mulai terpejam dengan keheningan suasana malam
didalam pesawat. Itulah kehendak Alloh, yang tak pernah kita ketahui
sebelumnya. Kita hanya bisa berencana, namun Alloh-lah yang berkehendak, ‘Kun
fa yakun’. Segala sesuatu itu pasti mungkin tuk terjadi ‘Impossible is noting’.
^_^ .red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar