Marhaban Bi Khudurikum... Please Enjoy Your Visit In Lailitsnay.blogspot.com :)

Minggu, 07 Desember 2014

KITABATIIE


Seribu Langkah Menuju Negri Seribu Benteng





Terdengar jelas di telingaku sebuah suara dari seorang pramugari yang menyadarkanku dari tatapan kosong dalam layar film di depanku : “Excuesme, please use your seatbat!”. Sejenak kesadaranku kembali mengingat saat-saat sebelum keberangkatanku menuju negri seribu benteng.

Dulu ketika aku duduk di kelas 3 Tsanawiyah, sempat terbesit dibenakku untuk melanjutkan studyku ke negri pyramid setelah selesai membaca sebuah buku karya Habiburahman. Namun, keinginanku pun sirna begitu saja ketika kesempatan telah di depan mata. Entahlah, hal apa yang tiba-tiba mengurungkan niatku itu. Mungkinkah rasa takut dan ketidak mampuan diri. Dan sekarang, aku sedang duduk di dalam sebuah pesawat menuju negri Maroko, negeri seribu benteng. Dimana tak pernah aku fikirkan sebelumnya, dan tak pernah ku bayangkan seperti apa negri itu. Karena, memang tak ada ketertarikan sebelumnya dengan negri maroko, yang sering disebut juga dengan negri 3 rasa, kombinasi dari afrika, timur tengah dan eropa.

Kisah ini berawal ketika seorang teman menawarkanku sebuah beasiswa untuk belajar ke luar negri. Sekilas aku pun hanya menanggapinya dengan tanggapan mustahilku, karena syarat-syarat yang ditawarkan tak ada satupun yang mudah menurutku. Aku pun hanya bisa tersenyum simpul saat meyakinkannya. Namun, berhari-hari aku hanya di hantui tawaran yang sebelumnya tak memikatku sama sekali. Awalnya aku hanya iseng-iseng saja saat membuat essay bahasa arab, yakni salah satu syarat untuk beasiswa tersebut. Sedikit ragu karena sebelumnya aku belum pernah membuat sebuah essay yang di haruskan mencapai 600-1000 kata, apalagi dalam bahasa asing.
Setelah menyelesaikan syarat yang pertama, beberapa syarat lainnya lebih menghantuiku. Karena yang awalnya hanya ingin simpati terhadap teman, akhirnya pun ikut terjun kedalamnya. Dari mulai surat rekomendasi 3 dosen yang salah satunya harus professor, lalu membuat passport ke kantor immigran. “Kapan ke kantor imigran?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut temanku. Sejujurnya aku msih agak ragu dengan keputusanku saat itu, namun aku pun tak ingin membuat temanku kecewa padaku. Akhirnya ku putuskan untuk pergi ke kantor imigran setelah mendapat restu dari orang tuaku.
Ternyata membuat passport itu tak semudah yang kami bayangkan, karena banyak juga syarat-syarat yang harus terpenuhi. (kayak mau nikah aja, hehe). Yang awalnya harus ada surat rekomendasi dari kampus dalam pembuatan passport, setelah itu semua foto copy berkas harus terlegalisir jika tidak membawa berkas yang asli. Dan akhirnya setelah mondar-mandir 4 kali ke kantor imigran, passport pertama kita bisa jadi. Senang sekali rasanya ketika menyelesaikan satu per satu syarat tersebut. Terakhir yakni kurang surat rekomendasi dari 3 dosen, setelah itu mengirimkan berkas-berkasnya via email. Namun, untuk memeinta surat rekomendasi dari dosen pun tak bisa langsung instan. Harus ada janjian untuk bertemu, perizinan dari dekan, dan syarat-syarat lainnya.
Terhitung sebualan sudah berlalu, setelah mengirimkan berkas-berkas pada deadline yang telah ditentukan. Dan selama itu pun belum ada kabar ataupun jawaban sama sekali dari pihak sana. Sejujurnya, aku tak begitu mempersoalkan akan diterima-tidaknya, namun didalam lubuk hati yang paling dalam tersimpan sebuah harapan untuk bisa pergi belajar ke negri jiran. Usaha dan do’a kami akhirnya terjawab tepat sehari setelah penantian sebualan kami. Kabar itu kami dengar dari teman yang diberitahu oleh dosen kami, tanpa disangka bahwa kami bisa lolos dan mendapat kesempatan untuk belajar ke negri orang. Meskipun hanya akan berlangsung satu bulan saja, rasa senang dan bahagia itu terlihat jelas di wajah kami berdua. Syukur atas nikmat rabb kami, ‘Alhamdulllah ‘alla kulli khal wa fie kulli khal’. 
Untuk lebih menyakinkan hati kami, akhirnya kami membuka email kami masing-masing. Setelah membuka dan membaca, ternyata aku hanya mendapatkan partial scholarship yakni dengan tanggungan sekolah saja, sedangkan temanku mendapatkan full scholarship yang akan ditanggung akomodasi dan tempat tinggal selama disana. Pikiranku berkecambuk atas harapan yang mulai pupus. Namun, temanku mulai menengakanku dengan berkata “kalau kita nanti jadi berangkat, kamu tinggal aja di asrama bareng aku. Kita minta izin biar kamu diperbolehkan tinggal”. Dalam batinku berkata “Aku ora po po gag ikut diasrama, asal bisa hidup disana aja udah Alhamdulillah”. (tapi,. Masak mau jadi glandangan??)
Seminggu setelah itu aku pun pulang untuk bernegoisasi kepada orang tuaku. Raut kecemasan terlihat jelas diwajah mereka, meski kata-kata positif terlontar dari mulut mereka. Aku terdiam dan termenung. Ayah masih sama, dari dulu dia tak pernah menolak permintaan-permintaan dariku. Inilah sifat manja yang tak bisa ku lepaskan, namun saat itu aku benar-benar tak tega dengan kedua orang tuaku.
Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, meskipun aku telah meminta restu kepada mereka namun hatiku masih mengganjal, karena pasti mereka memikirkan biaya dan nasibku di negri dimana orang tuaku pun tidak tau letak geografisnya. Kakak pertamaku tidak menyetujui keputusanku, tetapi orang tuaku membelaku agar terus optimis. Setelah mendapat restu dari ayah dan ibu, hatiku sedikit bisa tersenyum lega. Dan aku bisa mengendalikan kekhawatiranku yang sebelumnya berkecambuk didalam dada. Masih ada kurang lebih satu bulan sebelum pemberangkatanku, iu berarti masih ada waktu untuk mengajukan proposal-proposal demi meringankan beban orang tua.
Selama sebulan, dimana hari-hari sebelum pemberangkatan kami, aku dan temanku mengelilingi kota jogja demi pengajuan proposal kami. Aku sangat terharu karena temanku rela menemaniku meski hujan dan panas menerjang. Namun, tak sedikit yang menolak proposal yang kami ajukan. Inilah cobaan yang Allah berikan kepada kami agar kami tetap menjadi muslimah yang kuat. “Aku ora po po” itulah optimismeku untuk terus maju dan bertahan. Tidak lebih dari seminggu dimana hari pemberangkatan kami tiba. Proposal yang ku ajukan dan diterima oleh beberapa dermawan belum satu pun yang memberi kabar. Dan hari-demi hari akan berlalu lebih cepat. H-2 dari pemberangkatan ke maroko aku sudah harus di Jakarta, untuk berangkat bersama teman dan dosenku. Temanku sudah pulang ke rumahnya seminggu sebelum pemberangkatan, karena rumahnya memang di Jakarta. Dan aku harus melakukan perjalanan dari klaten ke Jakarta.
Ketika hari pemberangkatan tiba, aku telah bersiap mengemasi barang-barangku di dalam tas dan koper. Sehari sebelum pemberangkatan ke Jakarta, ayahku menemaniku pergi ke stasiun untuk membeli tiket kereta. Namun sesamapainya di stasiun, harapanku pun sedikit buyar karena semua tiket kereta telah habis. Akhirnya ayahku pun mengajakku ke terminal untuk membeli tiket bus. Aku pun hanya menuruti apa kata ayahku. Di dalam pikiranku hanya terfikir “yang terpenting sekarang  aku bisa sampai di Jakarta dengan apapun kendaraannya itu tak masalah”. Dan setelah sedikit berbincang dengan agen bus Jakarta, aku pun mendapat tiket pemberangkatan pada hari jum’at pukul 2 siang.
Hari itu pun tiba, meski kekhawatiran semua keluarga sangat terlihat dengan jelas, aku bertekat untuk pergi ke Jakarta sendirian. Aku tau bahwa ini adalah pertama kalinya aku pergi ke Jakarta, namun tak ada rasa takut sedikit pun saat itu. Ayah dan ibu hanya mengantarkanku kea gen bus, tampak jelas di muka mereka kekhawatiran yang sulit tuk di lukiskan. Aku mencoba selalu tersenyum di hadapan mereka untuk menyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Ketika lambaian tangan mereka aku sambut dengan gemetaran, tiba-tiba air mataku jatuh dengan perlahan. Pertanda bahwa itu adalah air mata keridhoan mereka untuk melepas kepergianku.
Dalam perjalanan itu, satu demi satu penumpang naik ke dalam bus dari tempat mereka masing-masing. Setelah bus mulai penuh, perjalanan itu sangatlah nyaman. Aku pun menikmati perjalannan itu, sebelum dering ponselku mengejutkanku. Setelah aku menutup percakapan dengan temanku yang menyuruhku untuk turun dari bus dan kembali ke jogja, tepatnya aku harus ke bandara adi sucipto karena jadwal pesawat di majukan tiba-tiba, dan aku telah di pesankan tiket pesawat menuju Jakarta. Betapa tak terkejutnya aku dengan kabar itu, aku mulai bingung karena saat itu juga aku harus turun di pinggir jalan, kepanikanku pun bertambah ketika teringat dengan pasportku dan saat ku gledah didalam tas aku tidak menemukannya, ternyata tertinggal di kamar kostku di jogja. Kepanikanpun melandaku sejadi-jadinya. Aku hanya dapat berdo’a kepada sang kholiq.  
Setelah aku mendapatkan bus untuk kembali, kepanikanku sedikit berkurang. Namun, bus itu hanya dapat mengantarku sepertiga dari perjalananku menuju jogja. Akhirnya terfikir olehku untuk naik taxi, namun berkali-kali aku menghubungi beberapa nomer taxi tak satu pun muncul di hadapanku. Dan ketika itu, munculah bus tujuan jogja. Tanpa pikir panjang, ketika aku di tawari untuk naik bus itu aku pun langsung ikut berduyun-duyun naik ke bus. Baru 5 menit perjalanan, tiba-tiba aku teringat tas yang sedang ku gendong di belakangku. Saat aku lihat bahwa tasku telah terbuka dengan lebar, aku langsung mencari dompetku. Namun, entah malangnya nasibku waktu itu bahawasanya dompetku telah di copet. Rasanya seperti terkena air panas yang baru saja mendidih, aku pun berteriak dan menangis sesenggukan. “Cobaan apalagi yang sedang menimpaku saat ini ya Alloh”. Tak henti-hentinya aku berdo’a dan berdo’a kepada Alloh agar dilancarkan segalanya.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, karna saat itu juga aku harus sampai ke jogja tepat pukul 20.00 WIB. Dalam  tangisku aku teringat dengan kedua orang tuakua yang rela meminjam uang demi kelancaran pemberangkatanku. Dalam fikirku jangan sampai orang tuaku tahu, karena uang yang diberikan kepadaku adalah uang pinjaman dan jumlahnya tidak sedikit. Namun, bagaimana nasibku jika aku hanya membawa tubuh dan pakaian saja, apakah aku akan bisa hidup di negri yang sangat asing bagiku. Setelah aku ditenangkan oleh beberapa orang disana, polisi menemaniku untuk mencari pencopet yang masih ku ingat wajahnya. Namun, setelah berkali-kali mengelilingi komplek perumahan di sekitar situ, tak ada hasil apapun. Akhirnya pak polisi memberiku surat kehilangan karena pencopet tersebut tak diketemukan.
Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 17.30 WIB, dan aku harus segera sampai di bandara adisucipto. Seketika temanku menelponku dan aku ceritakan kejadian yang barusan menimpaku, dia pun terdengar kesal dan ingin marah terhadapku, namun dia langsung memberi tahuku agar secepatnya mencari taxi menuju bandara adisucipto karena disana dosenku telah menunggu dan siap untuk penerbangan ke Jakarta.
“Taxiiii!!!!” triakan pak polisi saat memanggilkan taxi untukku. Dengan sesegera mungkin aku masuk bersama barang-barangku ke dalam taxi, waktu itu sudah menunjukkan pukul 18.10 WIB. Didalam taxi hatiku masih terombang-ambing, memikirkan bahwa akan sampaikah aku dengan tepat waktu. Dan passportku yang tertinggal dikost, itu membuatku lebih panik. Akhirnya aku meminta bantuan teman satu kostku untuk mengantarkannya ke bandara sebelum pukul 20.00 WIB. Didalam taxi tak henti-hentinya aku berdo’a, memohonkan segala kemudahan kepada sang maha pencipta agar aku ditujukan yang terbaik, haruskah tetap maju atau mundur. Dengan kecepatan yang lebih dari 60 cc, supir taxi itu pun mengerahkan tenaganya agar sampai sebelum jam 20.00 WIB. Entah, rasa yang tak bisa digambarkan saat itu, ketika naik taxi dengan kecepatan tinggi dan menerobos diantara sela-sela mobil, serta perasaan hati yang sedang kacau balau, gundah gulana dan sebagainya.
Sungguh, rencana Alloh begitu indah. Tepat pukul 19.50 aku sampai dibandara adisucipto, begitu pula teman satu kostku, dia datang 5 menit setelah aku turun dari taxi. Tersisa 10 menit untuk melakukan cek in dan berkemas menuju pesawat, yang akan membawaku ke Jakarta. Itulah pertama kalinya aku merasakan terbang diantara awan-awan malam.Sesampainya di bandara soekarno, temanku telah menungguku dan dosenku untuk pemberangkatan ke negri maroko. Dengan bimbingan dari dosen kami yang lebih berpengalaman, karena bukan pertama kalinya beliau pergi ke luar negri, maka kami hanya bisa mengikuti bimbingan beliau. Dan aku pun masih belum percaya dengan keberadaanku pada saat itu. Dalam benakku terngiang do’a orang tua pada setiap langkah-langkah yang mengkantarkanku hingga ujung perjalanan.
Mengingat hari-hari sebelum keberangkatan itu membuatku menitikkan air mata, yang mungkin itu adalah air mata bahagia dengan campuran kesedihan. Didalam batinku selalu terucap kata “Aku ora po po”. Ketika pesawat sudah mulai stabil dan terkendali, mataku mulai terpejam dengan keheningan suasana malam didalam pesawat. Itulah kehendak Alloh, yang tak pernah kita ketahui sebelumnya. Kita hanya bisa berencana, namun Alloh-lah yang berkehendak, ‘Kun fa yakun’. Segala sesuatu itu pasti mungkin tuk terjadi ‘Impossible is noting’. ^_^ .red    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar