Mimpi
adalah Kunci
Oleh: Lail IF
“Bermimpilah setinggi langit.. jika engkau jatuh, engkau akan jatuh
diantara bintang-bintang” (Ir. Soekarno). Itulah kata-kata presiden RI pertama
kita yang memotivasi para pemuda bangsa agar tidak takut dalam bermimpi tuk wujudkan
cita-citanya. Maka janganlah ragu ketika mempunyai impian yang besar, karna
jika ada kemauan pasti ada jalan.
Setiap perjalanan hidup, selalu ada lika-liku didalamnya. Namun,
semua itu selalu menjadikan kita lebih baik dan bermakna dalam menjalani
kehidupan. Serta bukan sekedar memperuruk kita, melainkan memberi warna dalam goresan
kehidupan.
Pergi ke negri jiran, kota pyramid. Bukanlah impian dari seorang
gadis sendu nan menawan. Namun, itulah jalan yang menghantarkannya kepada
kehidupan yang lebih baik. Kini dia bisa merasakan indahnya kehidupan di kota
padang pasir serta keelokan suasana negri arab.
Menjadi seorang model, adalah impian dari seorang gadis kelahiran
Kendal tersebut. Dia selalu memenangkan perlombaan model yang diselenggarakan
di kotanya. Gaya catwalk khas miliknya selalu dapat memikat hati para juri.
Beberapa tawaran untuk menjadikannya model foto sampul pun berantrian.
Namun, semua ditolaknya karena tidak mendapat restu dari orang tuanya. Karena
orang tua si gadis kecil itu mempunyai rencana lain setelah dia lulus dari
sekolah dasar. Yakni melanjutkan belajar di pesantren.
“Imah” panggilan dari si gadis kecil, dia mempunyai seorang adik
laki-laki yang mengidap autis atau memiliki keterbelakangan mental. Imah sangat
menyayangi adik semata wayangnya itu. Karena biaya sekolah model yang relative
mahal, maka imah menyetujui belajar di pesantren agar adik laki-lakinya dapat
menjalani pengobatan yang lebih intensif.
Mungkin inilah bakat terpendam seorang imah, gadis belia yang tak
pernah menjadi juara kelas saat duduk dibangku sekolah dasar. Namun selama belajar
di pesantren, imah pun selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya. Serta
meraih rata-rata tertinggi dari pararel kelas.
Ibunya sangat bangga dengan imah, maka sang ibu menginginkan agar imah
dapat melanjutkan kembali SMAnya di pesantren pula. Meski imah ingin kembali
bersekolah ke rumah agar bisa menjaga adiknya dan membantu pekerjaan orang
tuanya dengan bisnis mebel ayahnya yang sedang naik daun.
Namun, kabar baik itu tak berlangsung lama. Karena ibu imah yang
berencana membuka bisnis bersama temannya itu berakhir dengan penipuan. Uang
muka yang ibu imah pinjam dari hasil jeri payah bisnis mebel sang ayah habis
ludes dibawa lari oleh temannya sendiri, yang akan menjadi rekan bisnisnya.
Pada awalnya, sang ayah tidak menyetujui ajakan teman ibu imah.
Namun, karena ibu imah sangat menginginkan dan termakan oleh hasutan temannya,
dia pun meminjam tabungan sang ayah secara diam-diam. Saat itulah ibu imah
merasa menyesal dan tak henti-hentinya meminta maaf kepada ayah imah.
Setelah mendengar kabar yang membuat hati pilu, akhirnya imah pun
bertekat melanjutkan studinya di pesantren selama 6 tahun. Dan mimpi menjadi
seorang model tidak lagi terbesit diangannya. Kini mimpinya hanya satu, yaitu
menjadi kebanggaan orang tuanya.
Karena kejadian na’as tersebuat, keuangan keluarga imah menjadi
kesulitan. Adik imah yang mengidap autis, tidak lagi bersekolah di SLB karena
biaya yang mahal. Rumah mewah mereka di jual, untuk kebutuhan hidup keluarga
serta biaya sekolah imah dan juga untuk menyewa rumah yang lebih sederhana.
Imah menjadi gadis yang sangat prihatin dengan keadaan keluarganya.
Dia jadi sering melamun dan menangis memikirkan nasib keluarganya. Karena imah
adalah gadis yang supel dan digemari teman-temannya, maka teman-temannya selalu
memberi support kepada imah agar tetap sabar dan kuat.
Allah tidak akan membebani hambanya diatas kadar kemampuannya.
Karena selalu ada hikmah setelah adanya musibah. Maka ketika kita sedang
terpuruk dan terjatuh, yakinlah bahwa ada hal yang lebih baik sedang menanti
kita. Setelah hujan badai, akan ada pelangi yang indah. Setelah menjadi ulet
berbulu yang dibenci, akan menjadi kupu-kupu elok yang disukai.
Itulah lika-liku kehidupan. Dan setelah 6 tahun imah belajar di pesantren,
dia tamat dengan menyandang predikat istimewa. Sungguh sangat membanggakan bagi
kedua orang tuanya. Serta kebanggaan pesantren itu tersendiri. Imah pun
akhirnya mengabdikan dirinya di pesantren tersebut selama satu tahun sebelum
terbesit keinginan untuk belajar di negri jiran.
Pada akhir masa pengabdiannya, imah, gadis yang mulai beranjak
dewasa itu memutuskan untuk melanjutkan studinya ke kota pyramid, yakni di kota
Mesir yang terkenal juga dengan sebutan kota padang pasir. Negri dimana banyak
para penimba ilmu-ilmu agama serta yang lainnya.
Setelah mempersiapkan dengan matang, dengan didampingi salah satu
guru besar di pesantren tersebut, yang tidak lain adalah alumni Kairo Mesir
sendiri. Tahapan tes demi tes ia jalani dengan sungguh-sungguh, tanpa berpikir
akan akan adanya kegagalan. Hingga pada tes akhir yang mengharuskan dia untuk
pergi ke Jakarta, yakni tes tahap akhir untuk mencapai garis finish itu.
Syukur Alhamdulillah, dengan keuletan serta kegigihan imah dalam
menjalai tes seleksi mahasiswa berprestasi ke Al-Azhar Kairo Mesir, ia diterima
meski ada beberapa biaya yang harus ditanggungnya. Dengan sedikit keraguan atas
keberhasilannya yang harus menanggung biaya hidup selama di Negri jiran
tersebut, orang tua imah tidak keberatan atas apa yang telah imah capai.
Pada akhir bulan September 2012, akhirnya dia meluncur ke negri
jiran, negri padang pasir yang terkenal dengan keelokan laut merah. Dengan
tekat yang bulat, imah ingin mencapai kesuksesan hingga titik darah penghabisan
demi membahagiakan orangtua, sanak saudara serta keluarga-keluarga yang sangan
disayanginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar