Marhaban Bi Khudurikum... Please Enjoy Your Visit In Lailitsnay.blogspot.com :)

Sabtu, 10 Januari 2015

Review ARTIKEL

Harga Sebuah Proses

Sobat, pernahkah kita melakukan perbuatan yang sebenarnya “tak ingin kita lakukan”? Tentu saja hal ini membuat kita tidak tenang. Mengapa? Karena sejatinya hati kecil kita menolak apa yang sedang kita kerjakan, yakni sesuatu yang tak sejalan dengan “kebenaran” yang secara fitrah dimiliki oleh nurani kita. Contoh nyatanya seperti: berbohong, menyontek ketika uijan, curang dalam perlombaan, dan sebagainya. Bagi sebagian orang, mungkin saja beberapa perbuatan tersebut dianggap biasa. Toh tidak aka nada orang tahu kalau kita pelakunya. Parahnya lagi adalah pada saat melakukan hal tersebut kita tak lagi merasakan takut, gemetar, resah, dan perasaan lainnya. Seringkali kita menganggap hal ini biasa-biasa dan ringan-ringan saja. Jika sudah demikian, berhati-hatilah wahai sobat! Apabila perbuatan yang konon “dianggap ringan” ini terus dipelihara, maka tak mustahil ia akan mengantarkan kita pada perbuatan yang lebih buruk. Na’udzubillahi min dzalik.

Salah satu contoh yang sering kita temui, terutama sebagai pelajar dan mahasiswa, tentu familiar istilah ‘mencontek’. Meurut info, ternyata ada banyak cara dan strategi untuk menjalankan aksi ‘kurang baik’ ini. Mulai dari menyelipkan catatan kecil di baju, menuliskan di telapak tangan atau lengan, kerjasama via sms bahkan ada yang sangat cerdik mengelabuhi pengawas ujian hingga bisa membuka buku catatan. Hmmmm.. fenomena ini sungguh sangat memprihatinkan. Betapa tidak, perbuatan mencontek pada saat ujian adalah hal yang memalukan sekaligus membahyakan. Namun, sangat sedikit saudara-saudara kita yang menyadarinya. Ternyata masih banyak teman-teman kita, baik yang masih berstatus pelajar bahkan sampai sebagai mahsiswa melakukan aksi budaya ‘mencontek’. Sebenarnya, apa untungnya sih? Meskipun mencontek, tak ada jaminan “kan nilai kita menjadi tinggi”. Kalaupun terjadi, ‘nilai menjadi tinggi’ sama sekali tak ada yang bisa dibanggakan dari hasil contekan.
Sobat bening yang cerdas, ilmu ibarat cahaya yang suci nan bersih, sehingga ia mampu menyinari dan mampu menjadi petunjuk bagi yang menguasainya. Kesucian ilmu perlu diaraih dan diperjuangkandengan cara yang benar dan suci pula. Kita perlu bekerja keras dalam mempelajainya, bersabar dalam memahaminya, dan bertahap dalam mengamalkan serta menyebarkannya. Dalam menguasai ilmu, menjadi ahlinya ilmu, perlu proses dan waktu yang panjang. Seorang profesor terkenal tentu melalui tahapan dan proses yang non instan dalam menguasai keilmuannya. ‘Pekerjaan mencontek’ sangat tidak dianjurkan karena berlawanan dengan sifat ilmu yang suci. Cara ‘mencontek’ bukan cara tepat untuk menguasai ilmu. Perbuatan ini hanya akan membuat kita malas belajar dan mematikan semangat kita untuk menjemput masa depan. ‘Mencontek’ bukan menjadikan kita semakin pandai, sebaliknya menjadikan kita semakin menikmati kebodohan.
Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu dan jalani proses dengan benar”.
Jika kita benar-benar ingin menjadi orang sukses dan bahagia di masa mendatang, maka kuasailah ilmu dengan cara yang benar. Kalaupun mengalami kesulitan ketika proses mempelajari dan memahaminya, maka perlu iranya kita ingat pada sang pemilik ilmu, Allah SWT. Salah satu kuncinya adalah tawakkal. Tugas kita adalah usaha, usaha, dan terus usaha dengan maksimal dan dengan cara yang benar. Sebagai pejuang ilmu, tugas kita adalah belajar, dan belajar, kemudian belajar (Ta’alum wa ta’alum tsuma ta’alum) dengan sungguh-sungguh dan cara yang benar. Setelah itu serahkan semuanya kepada Allah SWT. Dalam firmannya yang teruntai indah pada Q. S Ali Imran ayat 159, “…kemudian apabila engkau telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal.” (afn)          
                                                           Sumber: Majalah “Bening” sejuk mencerahkan, edisi 49.
Kutipan artikel di atas “Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu dan jalani proses dengan benar”, ini dapat di artikan bahwasanya ketika kita menuntut ilmu atau belajar, kita harus bersungguh-sungguh dan mengikuti prosesnya dengan benar. Karena dengan alur proses pembelajaran yang benar, toh kita kan mendapat hasil yang memuaskan dengan jerih payah kita sendiri tanpa adanya kecurangan. Seperti yang telah terpapar pada artikel tersebut.
Fenomena ‘mencontek’ sesungguhnya telah dibudi dayakan kepada para pelajar. Setiap pelajar pasti sempat mengalaminya, entah ketika masih bersekolah di SD, SMP, SMA dan bahkan yang sudah kuliah sekaligus. ketika dalam ujian nasional, ujian sekolah, ataupun pada saat ulangan harian.
Jujur, saya sendiri pernah melakukannya ketika UAS MTs, yakni dari Depag. Itu adalah pelajaran yang benar-benar saya tidak paham, karena sama sekali belum diajarkan di sekolah saya. Pelajaran TIK yang masih jarang ditemukan pada saat itu, hanya beberapa teman saja yang paham tentang TIK. Jadi ketika ujian berlangsung, kami pun saling tukar jawaban. Meski ada rasa takut jika ketahuan, karena saya pribadi memang baru pertama kali ‘melakukan hal tersebut’. Jadi, memang tak ada kepuasan sendiri ketika hasil nilai keluar. Sedikit rasa sesal menyelimuti hati, namun ‘nasi telah menjadi bubur’ toh itu telah terjadi.
Hingga saat ini, setelah saya menjadi mahasiswa, tradisi ‘mencontek’ pun masih tetap ada. Meski saya sendiri tidak berani melakukannya karena pengalaman yang lalu, namun sangat tragis ketika melihat teman-teman yang melakukannya. Berdiskusi, bertanya, membawa catatan dan sebagainya. Entah, bagaimanakah menghilangkan tradisi tersebut. Karna jika hal itu terus dibudi dayakan, maka pendidikan di Negri kita ini sulit tuk berkembang. Dan peluang untuk lebih maju sangatlah sulit.
Maka dari itu, sebagi para calon pendidik seharusnya menyadari hal tersebut. Dan mempunyai inisiatif untuk menghilangkan, bukan malah melestarikannya terus menerus. Jadi, kesadaran diri itu sangatlah penting untuk selalu menanamkan kejujuran pada diri pribadi masing-masing.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar