Sobat, pernahkah kita melakukan perbuatan yang sebenarnya “tak
ingin kita lakukan”? Tentu saja hal ini membuat kita tidak tenang. Mengapa?
Karena sejatinya hati kecil kita menolak apa yang sedang kita kerjakan, yakni
sesuatu yang tak sejalan dengan “kebenaran” yang secara fitrah dimiliki oleh
nurani kita. Contoh nyatanya seperti: berbohong, menyontek ketika uijan, curang
dalam perlombaan, dan sebagainya. Bagi sebagian orang, mungkin saja beberapa
perbuatan tersebut dianggap biasa. Toh tidak aka nada orang tahu kalau kita
pelakunya. Parahnya lagi adalah pada saat melakukan hal tersebut kita tak lagi
merasakan takut, gemetar, resah, dan perasaan lainnya. Seringkali kita
menganggap hal ini biasa-biasa dan ringan-ringan saja. Jika sudah demikian,
berhati-hatilah wahai sobat! Apabila perbuatan yang konon “dianggap ringan” ini
terus dipelihara, maka tak mustahil ia akan mengantarkan kita pada perbuatan
yang lebih buruk. Na’udzubillahi min dzalik.
Salah satu contoh yang sering kita temui, terutama sebagai pelajar
dan mahasiswa, tentu familiar istilah ‘mencontek’. Meurut info, ternyata ada
banyak cara dan strategi untuk menjalankan aksi ‘kurang baik’ ini. Mulai dari
menyelipkan catatan kecil di baju, menuliskan di telapak tangan atau lengan, kerjasama
via sms bahkan ada yang sangat cerdik mengelabuhi pengawas ujian hingga bisa
membuka buku catatan. Hmmmm.. fenomena ini sungguh sangat memprihatinkan.
Betapa tidak, perbuatan mencontek pada saat ujian adalah hal yang memalukan
sekaligus membahyakan. Namun, sangat sedikit saudara-saudara kita yang
menyadarinya. Ternyata masih banyak teman-teman kita, baik yang masih berstatus
pelajar bahkan sampai sebagai mahsiswa melakukan aksi budaya ‘mencontek’.
Sebenarnya, apa untungnya sih? Meskipun mencontek, tak ada jaminan “kan nilai
kita menjadi tinggi”. Kalaupun terjadi, ‘nilai menjadi tinggi’ sama sekali tak
ada yang bisa dibanggakan dari hasil contekan.
Sobat bening yang cerdas, ilmu ibarat cahaya yang suci nan bersih,
sehingga ia mampu menyinari dan mampu menjadi petunjuk bagi yang menguasainya.
Kesucian ilmu perlu diaraih dan diperjuangkandengan cara yang benar dan suci
pula. Kita perlu bekerja keras dalam mempelajainya, bersabar dalam memahaminya,
dan bertahap dalam mengamalkan serta menyebarkannya. Dalam menguasai ilmu,
menjadi ahlinya ilmu, perlu proses dan waktu yang panjang. Seorang profesor
terkenal tentu melalui tahapan dan proses yang non instan dalam menguasai
keilmuannya. ‘Pekerjaan mencontek’ sangat tidak dianjurkan karena berlawanan
dengan sifat ilmu yang suci. Cara ‘mencontek’ bukan cara tepat untuk menguasai
ilmu. Perbuatan ini hanya akan membuat kita malas belajar dan mematikan
semangat kita untuk menjemput masa depan. ‘Mencontek’ bukan menjadikan kita
semakin pandai, sebaliknya menjadikan kita semakin menikmati kebodohan.
“Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu dan jalani proses
dengan benar”.
Jika kita benar-benar ingin menjadi orang sukses dan bahagia di
masa mendatang, maka kuasailah ilmu dengan cara yang benar. Kalaupun mengalami
kesulitan ketika proses mempelajari dan memahaminya, maka perlu iranya kita
ingat pada sang pemilik ilmu, Allah SWT. Salah satu kuncinya adalah tawakkal.
Tugas kita adalah usaha, usaha, dan terus usaha dengan maksimal dan dengan cara
yang benar. Sebagai pejuang ilmu, tugas kita adalah belajar, dan belajar,
kemudian belajar (Ta’alum wa ta’alum tsuma ta’alum) dengan sungguh-sungguh dan
cara yang benar. Setelah itu serahkan semuanya kepada Allah SWT. Dalam
firmannya yang teruntai indah pada Q. S Ali Imran ayat 159, “…kemudian
apabila engkau telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Allah.
Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal.” (afn)
Sumber: Majalah “Bening” sejuk
mencerahkan, edisi 49.
Kutipan artikel di atas “Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu
dan jalani proses dengan benar”, ini dapat di artikan bahwasanya ketika kita
menuntut ilmu atau belajar, kita harus bersungguh-sungguh dan mengikuti
prosesnya dengan benar. Karena dengan alur proses pembelajaran yang benar, toh
kita kan mendapat hasil yang memuaskan dengan jerih payah kita sendiri tanpa
adanya kecurangan. Seperti yang telah terpapar pada artikel tersebut.
Fenomena ‘mencontek’ sesungguhnya telah dibudi dayakan kepada para
pelajar. Setiap pelajar pasti sempat mengalaminya, entah ketika masih
bersekolah di SD, SMP, SMA dan bahkan yang sudah kuliah sekaligus. ketika dalam
ujian nasional, ujian sekolah, ataupun pada saat ulangan harian.
Jujur, saya sendiri pernah melakukannya ketika UAS MTs, yakni dari
Depag. Itu adalah pelajaran yang benar-benar saya tidak paham, karena sama
sekali belum diajarkan di sekolah saya. Pelajaran TIK yang masih jarang
ditemukan pada saat itu, hanya beberapa teman saja yang paham tentang TIK. Jadi
ketika ujian berlangsung, kami pun saling tukar jawaban. Meski ada rasa takut
jika ketahuan, karena saya pribadi memang baru pertama kali ‘melakukan hal
tersebut’. Jadi, memang tak ada kepuasan sendiri ketika hasil nilai keluar.
Sedikit rasa sesal menyelimuti hati, namun ‘nasi telah menjadi bubur’ toh itu
telah terjadi.
Hingga saat ini, setelah saya menjadi mahasiswa, tradisi
‘mencontek’ pun masih tetap ada. Meski saya sendiri tidak berani melakukannya
karena pengalaman yang lalu, namun sangat tragis ketika melihat teman-teman
yang melakukannya. Berdiskusi, bertanya, membawa catatan dan sebagainya. Entah,
bagaimanakah menghilangkan tradisi tersebut. Karna jika hal itu terus dibudi
dayakan, maka pendidikan di Negri kita ini sulit tuk berkembang. Dan peluang
untuk lebih maju sangatlah sulit.
Maka dari itu, sebagi para calon pendidik seharusnya menyadari hal
tersebut. Dan mempunyai inisiatif untuk menghilangkan, bukan malah
melestarikannya terus menerus. Jadi, kesadaran diri itu sangatlah penting untuk
selalu menanamkan kejujuran pada diri pribadi masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar